Headline News
Tunggu...

Monday, 2 January 2012

Dialog Imajinatif -(Antara Hati dan Mata)-

berdasarkan uraian Syaikhuna Ibnul Qayyim Al Jauziyah dalam terjemahan buku Taman orang-orang yang jatuh cinta dan memendam rindu(TOJCMR), terbitan darul Falah, hal 84 – 89.
Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh.
“Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Yang pertama memiliki kenikmatan pandangan, dan yang kedua memiliki kenikmatan pencapaian. Dalam dunia nafsu, keduanya merupakan sekutu yang mesra, dan jika terpuruk kedalam kesulitan serta keduanya bersekutu dalam cobaan, maka masing-masing akan mencela dan mencaci yang lain” Syaikh Ibnul Qayyim Al Jauziyah.(TOJCMR:84)
Kami ingin memulainya dengan sebuah hadits, “Dari Jarir bin Abdullah Radhiyallahu’anhum berkata “Saya pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang pandangan yang tidak sengaja. Lalu beliau memerintahkan agar aku mengalihkan pandangan ku” (HR Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzy) sebagai jawaban kepada SPPI dan kepada siapa saja yang masih menduga adanya pacaran ala Imam Ibnul Qayyim (na’udzubillah), atau adanya pandangan yang halal pada mereka yang jatuh cinta sebelum menikah apalagi yang berpacaran. Jika bagi mereka yang tidak berpacaran saja pandangan seperti ini(yang tidak sengaja) dialihkan oleh Rasullah SAW, apalagi bagi mereka yang pacaran, jelas pandangan yang terjadi adalah pandangan yang disengaja dan berulang-ulang, sehingga tidak diragukan lagi keharamannya bagi mereka yang berfikir.
Indera kita yang banyak ragamnya ini, diyaumil akhir nanti, selain mulut, semua akan bersaksi tentang segala perkara yang baik dan buruk, yang ditampakkan dan yang disembunyikan sehingga semua amaliyah, termasuk tipu daya dan “penyamaran” kita akan terbuka dengan gamblangnya tanpa pernah kita mampu untuk memberikan pembenaran lagi. Pandangan akan berkata dengan jujur, hati akan berkata dengan jujur, tangan akan berkata dengan jujur, kaki akan berkata dengan jujur, semua amanah tubuh itu akan bertasbih memuji kebesaran Allah SWT dan menetapkan apakah si fulan/ah itu amanah terhadap apa yang telah dititipkan oleh Allah SWT untuknya.
Berbicara perkara pandangan, biasanya orang akan benar-benar yakin terhadap sesuatu kalau dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Itu artinya bukan mata kepala orang lain, atau mata sendiri kepala orang lain, atau mata orang lain dikepala sendiri..(halah kok makin ngaco..hehe). Seperti kata Imam Ibnul Qayyim diatas, mata laksana penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Hati adalah panglima, sedangkan mata dan lainnya adalah pesuruh. Berikut dialog imajinatif antara mata dengan hati..semoga menjadi perenungan bersama, dan menyikapinya dengan sikap-sikap yang terbaik.
-----------------------------
Situasi:..ada sekumpulan ikhwan akhwat yang mengadakan acara baksos. Interaksi diantaranya pun tidak mungkin dihindari, meski ada jarak diantara mereka. Aturan syariat tentang hijab secara luas, menahan pandangan, khalwat, dll telah diketahui dan sedang serta terus-menerus dipraktekkan. Tetapi apalah daya..ikhwan akhwat juga manusia, punya hati punya rasa, jangan samakan dengan..(stop…lho..kok malah bersenandung..:p).
Tibalah pada suatu ketika..ketika acara baksos tersebut sedang sibuk-sibuknya, ada seorang ikhwan yang tidak sengaja melepaskan pandangannya kepada seorang akhwat menarik yang sedang sibuk membagi-bagikan sembako…..
“wuuuutttttt……syeeepp”
mata ikhwan sedang menatap akhwat tersebut. Bukan tatapan yang disengaja, tidak juga tatapan untuk waktu yang lama. Tetapi pandangan itu sejatinya dilepaskan untuk hati mereka yang memandang itu sendiri. Ketika dialihkan, maka anak panah itu akan tercabut dari hati orang yang memandangnya.
kemudian hatinya pun mulai berkomentar: “adaoww…apaan tadi ya?…sakit tapi menyenangkan…tadi akhwat yang mana ya…? mata…lihat lagi donk…ayo lihat lagi.. ?
mata : “udah donk..kan Allah SWT memerintahkan aku untuk menundukkan pandangan…”
hati : “emangnya kenapa…kan kalau kenapa-kenapa, tunduk lagi aja..gampang kan..gitu aja kok repot” hati mencari pembenaran.
mata : “ngga deh..nanti pemilikku(sang ikhwan) jadi ngga konsen sama baksosnya..”
hati : “wah..kuno kamu…pemilik kamu kan dah tahu batasan2nya..udah lihat lagi aja..dijamin gapapa deh..?”
mata : “mmm…ok deh, bentar aja ya”..mata si ikhwan pun memandang untuk kedua kalinya, seketika sang hati merasa ada perasaan senang yang lebih dari sebelumnya. Tapi tidak berapa lama, kesenangan hati pun sirna seiring dengan pandangan sang mata yang dialihkan.
hati : “ahhh..kamu gimana sih mata…bentar banget..aku kan belum puas.. lihat lagi donk” hati memaksa.
mata : “jangan deh hati..nanti kamu, aku dan pemilik kita bakalan ngga konsen sama baksosnya…baksos ini kan juga dalam rangka ibadah kepada Allah SWT..”
hati : “yee..kamu teh kumaha sih mata..ini juga kan dalam rangka menjemput masa depan atuh(akal-akalan si hati)..bayangkan kalo pemilik kita menikah sama akhwat itu..kan berkat kamu juga..”
mata
: “ya..tapi kan bukannya dicari tahu dulu kesiapan pemilik kita ini..baru deh aku melihat-lihat..bukannya apa-apa hati, takutnya.. kalo sebenarnya pemilik kita ini belum siap..justru malah akan merusak amaliyahnya kepada Allah, jadi ngga ikhlas gitu”
hati : “udah deh..ikhlash ga ikhlas itu urusanku..itu tanggunganku..kamu teh cuma lihat sajah..udah selebihnya aku yang tanggung…ayo..kuperintahkan kau, mata, untuk melihat..”
mata : “baiklah..kalau itu maumu” dengan terpaksa mata mengiyakan.
Satu panah beracun menancap dihati, kemudian ada panah kedua, ketiga, dan akhirnya ada kesekian panah yang menancap dihati. Memandang lebih dari apa yang bisa dipandang(berkhayal), hingga acara baksos itu selesai, si ikhwan pun pulang dengan “luka” rindu dihati. Panah-panah itu meninggalkan “fatamorgana” sosok si akhwat, semakin si pemiliknya berusaha untuk mengingat-ingat si akhwat, semakin panah-panah itu menusuk ke dalam hati. Esoknya, adalah hari-hari yang disikapi untuk memenuhi tuntutan(dosa kecil memandang, berbicara, dsbnya) hati terhadap hal itu.
Tetapi..Alhamdulillah, usaha untuk terus menjaga mata, dan menata hati sesuai tuntunan Allah SWT, tidaklah begitu saja terlenakan oleh racun dari panah-panah iblis(pandangan kepada wanita non muhrim) tadi. Dimalam berikutnya..Si ikhwan pun bermaksud mengadu kepada Allah SWT tentang perihal ini. Dalam munajatnya kepada Allah SWT, si ikhwan mulai merenungi apa yang sebenarnya terjadi, Si ikhwan menghendaki adanya klarifikasi..si ikhwan ingin agar mata dan hati yang diamanahkan Allah SWT untuknya itu memberikan argumentasi yang benar, bukan untuk membenarkan.
Nurani ikhwan berkata “Silahkan untuk mata dan hati..siapa diantara kalian yang ingin memberikan argumentasi mengenai perkara ini..”
hati berkata : sambil menunjuk kepada mata “kaulah yang telah menyeretku kepada kebinasaan dan mengakibatkan penyesalan, karena aku mengikutimu beberapa saat saja. kau lemparkan kerlingan matamu ke taman itu, kau mencari kesembuhan dari kebun yang tidak halal bagimu, kau salahi firman Allah “Hendaklah mereka menahan pandangannya..”, kau salahi sabda Rasulullah SAW “memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah azza wajalla, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya, yang akan didapatinya didalam kelezatan hatinya (HR Ahmad)”
Lalu..adakah orang yang lebih tercela daripada orang yang terkena panah beracun? apakah engkau tidak tahu bahwa tidak ada yang lebih berbahaya bagi manusia selain dari mata dan lidah? tidak ada kerusakan yang lebih banyak daripada kerusakan yang diakibatkan mata dan lidah. Berapa banyak kebinasaan yang disebabkan mata dan lidah? berapa banyak sumber kehinaan yang muncul karena mata dan lidah? barangsiapa ingin hidup bahagia dan terpuji, maka hendaklah dia menahan ujung padangan mata dan lidahnya, agar dia selamat dari bahaya, karena mata menyimpan kelebihan pandangan dan lidah menyimpan kelebihan bicara”(TOJCMR : 84-85)
Tidak terima argumentasi sang hati, matapun menjawab..
mata berkata : “Kau zalimi aku sejak awal hingga akhir. Kau kukuhkan dosaku lahir dan batin. padahal aku hanyalah utusanmu yang selalu taat dan penuntun yang menunjukkan jalan kepadamu. Engkau adalah raja yang ditaati, sedangkan kami hanyalah rakyat dan pengikut. Untuk memenuhi kebutuhanmu, kau naikkan aku ke atas kuda yang binal, disertai ancaman dan peringatan. jika kau suruh aku ke atas untuk menutup pintuku dan menjulurkan hijabku, dengan senang hati akan kuturuti perintah itu. Jika engkau memaksakan diri untuk mengembala dikebun yang dipagari dan engkau mengirimku untuk berburu ditempat yang dipasangi jebakan, tentu engkau akan menjadi tawanan yang sebelumnya engkau adalah seorang pemimpin, engkau menjadi budak yang sebelumnya engkau adalah tuan. Yang demikian ini karena pemimpin manusia dan hakim yang paling adil, Rasulullah SAW telah membuat keputusan bagiku dan dirimu, dengan bersabda..
“Sesungguhnya didalam tubuh itu ada segumpal darah. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik pula, dan jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah..segumpal darah itu adalah hati” (HR Bukhari, Muslim, dan lainnya)
wahai hati..jika engkau dianugrahi pandangan, tentu engkau tahu bahwa rusaknya para pengikutmu adalah karena kerusakan yang ada pada dirimu, dan kebaikan mereka adalah kebaikanmu. Lalu..engkau lemparkan kesalahanmu kepadaku, mata yang tak berdaya, padahal sumber bencana yang menimpamu adalah karena engkau tidak memiliki cinta kepada Allah azza wajalla, tidak menyukai dzikir kepada Nya, tidak menyukai firman, asma, dan sifat-sifatNya. Engkau beralih kepada yang lain dan berpaling dariNya. Engkau berganti mencintai selainNya, padahal engkau telah mendengar kisah pengingkaran Allah terhadap Bani Israil, karena mereka mengganti makanan yang ada dengan makanan yang lain yang justru lebih hina. Maka Allah mencela mereka
“Maukah kalian mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?”(Al Baqarah: 61)
bagaimana keadaan pengganti cinta kepada Pencipta, Pelindung dan yang menangani urusannya, yang tidak memiliki keberuntungan, kenikmatan dan kesenangan? Bandingkanlah Allah dengan sesuatu yang engkau jadikan penggantiNya dan pengganti cinta kepadaNya. Apakah engkau ridho berada dijamban, sementara orang-orang yang mencintai Allah berkeliling di Arsy? Jika engkau menghadapkan diri kepada Allah dan berpaling dari selainNya, tentu engkau akan melihat berbagai macam keajaiban, engkau aman dari bencana dan kerusakan. Tentunya engkau sudah tahu bahwa Dia mengkhususkan keberuntungan dan kenikmatan kepada orang yang mendatangiNya dengan hati yang bersih, atau bersih dari kemusyrikan, yang didalmnya tidak ada cinta kepada selainNya dan hanya mengikuti ridhoNya.
Antara dosaku dan dosamu ditengah manusia seperti antara kebutaanku dan kebutaanmu dalam membuat analogi, sebagaimana firman Allah SWT “Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang didalam dada” (Al Hajj :46)
itulah argumentasiku”(TOJCMR:86-87) kata mata mengakhiri, yang bersamaan dengan jatuhnya bulir-bulir mutiara melalui dirinya.
Hati, mata, nurani si ikhwan, bersatu dalam lafazh “Astaghfirullaa hal Adzhim…Astaghfirullaa hal Adzhim..laa ila ha illa anta, subhanaka, inni kuntu minadzh dzholimin..Astaghfirullaa hal Adzhim”, memohon ampunan Allah SWT, memohon agar diri yang lemah ini dimudahkan untuk melihat yang benar itu benar dan begitu juga sebaliknya, serta dikuatkan untuk selalu mensucikan diri dan menghindari segala dosa, meski itu hanya dosa kecil, Amin.
wallahu’alam
wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh


sumber : http://pacaranislamikenapa.wordpress.com

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silahkan berkomentar.

Follow Me

Pengunjung

free counters

Berlangganan