Headline News
Tunggu...

Sunday, 14 April 2013

Bahasa Sedih


Untuk berbicara, seseorang tidak perlu mengungkapkan kata-kata, sebab ungkapan yang berasal dari gerak-gerik tubuh terkadang lebih kentara maknanya. Begitu pun dengan kesedihan, ia akan tampak dengan jelas hanya dari raut wajah atau gerak tubuh seseorang. Yang dengannya akan terbukalah semua rahasia yang tersimpan.

Inilah keunikan dari kesedihan. Meski tutur kata yang dimiliki orang berbeda-beda tiap bangsanya, namun bahasa kesedihan tetap sama. Kita tidak perlu memahami tiap kata yang memperlihatkan tentang kesedihan, sebab cukup dengan mengetahui ekspresi wajah seseorang, maka kita pun bisa menangkap kesedihan yang tengah dihadapinya. Sama juga dengan bahasa cinta, dengan melihat gerak-gerik orang yang tengah jatuh cinta. Kita pun akan tahu bahwa ia sedang jatuh cinta.

Ya. Dengan juga memahami tentang hakekat kesedihan, maka kau telah mengetahui karya Tuhan yang agung. Melalui semua ciptaan-Nya, Yang Ilahi terus saja memisahkan persoalan cerdas dan bodoh. Jika kau memang cerdas, maka kau tidak pernah merasa cerdas tapi merasa bodoh, sehingga terus giat dalam belajar. Sebaliknya, ketika kau merasa cerdas, maka selama itulah sebenarnya kau selalu dalam kebodohan.

Sungguh, orang yang terus menjerumuskan diri ke dalam berbagai macam urusan aktivitas duniawi adalah yang menarik diri dari keheningan Diri Yang Tertinggi. Padahal dalam Kehehingan itulah seseorang dapat merasakan indahnya ketenangan. Akibatnya, ia tetap merasakan kesedihan yang dalam meski kenikmatan hidup telah dimiliki. Tiap harinya hanya diisi dengan sesuatu yang sia-sia dan terkadang mendatangkan mara bahaya bagi dirinya. Karena ia adalah pelaku sekaligus korban nyata dari semua kesedihan.

Ya. Pola yang dimiliki oleh setiap manusia dalam berkarya adalah sama dengan yang dimiliki Tuhan. Bedanya, dalam bekerja maka Yang Absolut tidak pernah berhenti dan tak kenal lelah. Ia selalu aktif dan terus bergerak meski tidak bergeser dari tempat-Nya. Tidak mengorbankan integritas-Nya, karena semua yang ada tetap sebagai kesatuan diri-Nya.

O… jiwa yang bebas adalah yang bebas secara pribadi namun tetap melekat dengan Diri Yang Bebas. Ia selalu terikat dengan Sang Kekasih kemanapun ia pergi dan bergerak. Bernapas, mengedipkan mata, bahkan dalam tidur dan bangunnya, ia terus terikat dengan Diri Kekasihnya itu. Sehingga ia tidak luput dari peristiwa-peristiwa dunia, namun hatinya tak terpengaruh dengan permainan yang terjadi. Ia memang mengikuti setiap langkah hidupnya di dunia, tapi penghayatannya hanya untuk akherat. Ia juga terus menanggung semua penderitaan daging, namun tidak ingin hidup hanya untuk mengikuti tujuan dagingnya.

Untuk itu, kendalikan hasrat keinginanmu (nafsu) yang sejatinya bisa membutakanmu. Karena meskipun kecil, nafsu akan sama dengan bulan bagi bumi dan matahari. Jika dalam satu waktu antara bumi, bulan dan matahari berada pada garis lurus, maka sinar matahari yang menuju bumi akan hilang. Meski kecil, bulan akan membuat gerhana total pun terjadi, yang akibatnya sinar terang dari matahari menjadi hilang, sedangkan bumi menjadi gelap seperti malam.

Inilah pertanda tentang bahayanya nafsu bagi seseorang. Sering tidak diungkapkan dengan bibir, tapi sering dilakukan dalam laku hidup dan hatinya. Semakin hari, maka semakin banyak pula ia mengadopsi dari tuntunan syaitan. Berbagai macam tradisi yang bertentangan dengan aturan Ilahi juga diikuti. Yang menjadikan aspek-aspek agama yang lebih bersifat batiniah, halus, mendalam dan hikmah menjadi terkubur bersama perkembangan kebutuhan manusia. Bahkan tak pelak semua kebutuhan materi disandingkan dengan semua aturan agama. Persembahan ibadah bagi Tuhan hanya sebatas untuk bisa menggugurkan kewajiban dan bukan dengan rasa cinta yang mendalam. Sehingga ajaran yang dibawa oleh sang kekasih (Muhammad) terus menjadi kamuflase dalam kehidupan.

O… bukan dengan padangan seperti itu yang harus kau miliki duhai kekasihku. Karena kebebasan spiritual yang sejati adalah hasil bentukan dari transformasi seluruh sifat dasar manusia lalu dihubungkan dengan semua hukum Tuhan yang abadi. Jika kau masih mendiami tubuh tanah liatmu, maka jangan pernah kabur dari kehendak-Nya, yaitu mematuhi semua perintah dan larangan-Nya dengan tekun.

Kita harus selalu menegakkan hukum Allah, karena Dia-lah yang mengatur tatanan kehidupan manusia. Dia yang memerintah dan Dia pula yang memutuskan aturan moral. Sehingga, bila kau bisa memutuskan bahwa mematuhi hukum-Nya adalah bukan suatu paksaan – melainkan kesukaan dalam persatuan dengan Diri-Nya -, maka dirimu telah menemui tujuan yang paripurna. Yaitu cinta yang didasarkan pada kesadaran diri.

Ya. Sifat yang termurnikan adalah sesuatu yang terlepas dari bahasa kesedihan. Dengan bibir atau tubuhnya, ia tidak lagi lekat dengan rasa sedihnya, sehingga tak perlu mengeluarkan bahasa tubuh yang menandakan bahwa ia tengah berduka. Sebab, semuanya telah hilang dari dalam dirinya, yang membuat setiap langkah hari-harinya terpenuhi dengan semangat yang membara dan gairah cinta sejati.

Jika tubuh, pikiran, hati dan ruh dapat bekerja bersamaan secara adil, maka dengan sempurna akan menghasilkan kebaikan. Pencerahan dalam ilmu dan pengetahuan akan terjadi. Sehingga tidak perlu lagi larut dengan kesedihan, atau merasa terkurung dalam satu keadaan yang sulit. Karena kebebasan bukan hanya perkara lepasnya diri dari penderitaan, melainkan juga diiringi kesedihan. Yang karenanya seseorang mau terus berusaha dan pantang menyerah dengan keadaan.

Sungguh, kebebasan tidak pernah didapatkan dari penghancuran. Sedangkan bahasa kesedihan adalah jalan yang sejajar dengan kejahatan itu. Memang keseluruhan sifat manusia akan tunduk pada kiamat dari Tuhan, tapi ia berhak menentukan untuk lepas dari kesedihan. Meski tiada yang dapat terhindar dari kehendak-Nya, namun siapa saja bisa memilih akhir dari kehidupannya.

Untuk itu, ketika seseorang telah mendasarkan dirinya dengan kuat pada hakekat Eksistensi Tertinggi, maka kebebasan spiritual yang abadi akan terlaksana. Jiwa-jiwanya tetap bebas lepas untuk kapan dan dimana saja harus mengagungkan Yang Universal, tanpa kendala. Sebab, kiblatnya adalah kalbu yang bercahaya dengan tidak ada kegelapan. Sedangkan Cahaya yang terang benderang akan terus menemani kehidupan.

Dengan cara yang sama, maka saat menyadari bahwa kesedihan hakekatnya adalah sebuah kebahagiaan, maka seseorang akan terbebas dari belenggu kesia-siaan. Begitupun diri yang telah mencapai rasa cinta yang suci, tidak pernah membahasakan kesedihan dalam bahasa apapun. Karena lidah kehidupannya terus digerakkan dalam cinta yang bahagia.

Sungguh, dunia ini akan terus bergerak sebagaimana kodrat-Nya. Namun ketika kau larut dalam kesedihan, maka seolah-olah kau sedang menghentikan putaran rodanya. Apapun tindakan yang kau lakukan, bila atas nama kesedihan atau dalam bentuk bahasa kesedihan adalah bukan sebuah kebaikan. Keadaan tidak akan membaik sebelum kau terlepas dari kedunguan dan kebingungan itu. Padahal masalah waktu, siapa yang bisa mengetahui kapan ia berakhir?

Adalah batas kematangan dan kemajuan kita akan berkembang saat rasa kesedihan tidak menjadi hal yang menakutkan, atau sesuatu yang menghantui waktu-waktu dalam kehidupan. Dan sampai pada titik tertentu, maka siapapun akan memperoleh hasil yang sepandan dengan setiap usaha yang dilakukannya. Bukan karena terkekang oleh takdir Ilahi, melainkan memang telah terangkum dalam manifestasi Yang Universal.

O… Yang Absolut telah menetapkan bahwa kesedihan adalah juga kebahagiaan. Lantas mengapa dirimu masih saja tidak mau menerima bila kebahagiaan bisa ada lantaran ada kesedihan? Dan mengapa kesedihan terus di asingkan dari kehidupan? Padahal bila dengan sadar mengetahuinya, justru hanya dengan kesedihanlah – terutama sedih karena sedikitnya amal kebaikan – maka kau pun akan berusaha memperbaiki keadaan. Membebaskan diri dari setiap belenggu kekufuran.

Untuk itu, yang membedakan antara manusia dengan hewan adalah tentang kemampuannya dalam membedakan mana yang salah dan benar. Bahkan di antara manusia ada lagi yang bisa membedakan mereka, yaitu kemampuannya dalam meletakkan sesuatu itu tepat pada tempatnya. Itu pula yang terkandung di dalam kesedihan. Jika seseorang bisa meletakkan kesedihan pada tempatnya yang sesuai, maka ia telah sempurna dalam memiliki kebijaksanaan.

Ya. Elemen-elemen yang ada di dunia ini memang terlalu banyak mengandung kejahatan dan tindakan amoral. Sehingga untuk apa kita masih menambahkannya dengan kesedihan yang menyatu di dalam akal dan pikiran. Padahal itulah yang akan mendatangkan kejahatan dengan hasil yang tidak sesuai dengan nilai kebenaran Tuhan. Sehingga, hanya melalui kesadaran bahwa tidak ada yang tidak bermanfaat – termasuk kesedihan – di dunia ini, maka seseorang akan mendapatkan ketenangan yang abadi.

Lalu, ketika ia bisa terus menerobos gelapnya ruang kesedihan, maka ada kesempatan untuk dapat menemukan terangnya sinar kebebasan. Dan saat jiwanya telah bebas dari belengggu yang menyesakkan itu, sudah bisa dipastikan bahwa ia pun mendapatkan kemuliaan. Yang semua orang jelas memimpikannya.

O… sudahi bahasa dan sikap sedihmu sejak saat ini juga. Mulai detik pertama membaca tulisan ini, maka tidak sepantasnya engkau tetap larut dalam kesedihan yang dungu. Karena bagi mereka yang telah bebas, maka setiap kesedihan adalah semangat. Setiap kegundahan adalah cikal bakal kebaikan yang lebih. Dan semua kemalangan adalah anugerah besar agar ia terhindar dari kekufuran. Sehingga ia akan menjadikan semua kesedihan adalah instropeksi dan usaha dalam memperbaiki diri. Bukan malah berkecil hati dan putus asa, melainkan tetap sabar dan cinta.a

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silahkan berkomentar.

Follow Me

Pengunjung

free counters

Berlangganan