Headline News
Tunggu...

Sunday, 5 October 2014

Kemah kepenulisan di Darmacaang

       

Satu hari berselang setelah mengikuti acara kemah menulis yang diselenggarakan oleh KOPI (komunitas penulis IAIC), namun rasa nyaman belum bisa hilang ketika berada dibumi perkemahan Darmacaang Cikoneng yang terletak di Kabupaten Ciamis. Perjalanan dari Cipasung menuju tempat perkemahan cukup jauh, namun rasa lelah dan panas perlahan hilang setelah mendekati tujuan utama perjalanan. Kami disuguhi pemandangan alam yang indah,  cekungan lembah dan dataran tinggi yang ditumbuhi pepohonan pinus mulai kami temui disana, suara bising dijalan perkotaan yang sempat menggangu ditelinga tergantikan dengan suara alam, kicauan burung-burung, seolah menyambut kedatangan tamu spesial mereka.
    Hijau teduh damai hamparan pinus terlihat setelah sampai ditempat perkemahan, karena memang sebenarnya tempat itu adalah perkebunan milik perhutani yang hasil kekayaan dari menyadap getahnya diekspor sampai luar negeri lho. Kucoba mencari sandaran pada pohon pinus untuk sekedar beristirahat sejenak menghilangkan penak dikepala, sambil bertafakur pada alam ditemani semilir angin yang berirama menyambut kedatanganku disini. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah indah sejuk tenang alam sekitar hamparan hijau memukau. Kuhirup udaraMu sepuas jiwa yang sedang membahana, suara serangga menyanyikan lagu sendu akan kerinduanku pada alam setelah lama tak jumpa dengannya. Lalu, kupejamkan mata semakin dalam merasa, betapa takbjubnya hati ini Tuhan dengan anugerah-Mu.
    Ah… rupanya aku terlena, dibuat lupa dengan maksud kedatanganku kesini, kawan-kawan menyapa meminta bantuan untuk mendirikan tenda kemah disela-sela pohon pinus sebelum hari mulai sore. Kuberanjak pergi sambil membawa seutas tali untuk mengikat tenda pada pepohonan dan menghampiri salah satu kumpulan kawan KOPI yang sedang mencangkul, mendatarkan tanah agar bisa sedikit merasakan nyaman tidur disana. Sebagian yang lainnya membentangkan tali pengikat yang diletakkan diantara dua pohon untuk membentangkan bendera kekaguman kami, ya.. Indonesiaku tercinta dan KOPI disisi sebelah timur jalan masuk dari samping jalan. Sementara kawan KOPI perempuan menyiapkan alat-alat dapur untuk persiapan memasak, membuat tungku dari batu juga dibantu oleh kawan KOPI laki-laki mencarikan kayu bakar.
      Satu persatu pekerjaan beres, kamipun duduk santai berkumpul bersenda gurau sambil menunggu arahan selanjutnya dari ketua panitia. Kami berkumpul disalah satu sudut kebun pinus untuk upacara pembukaan acara kemah menulis, menyanyikan hymne KOPI bersama dan setelahnya panitia bersiap untuk memberikan materi kepada semua peserta dan kebetulan saya mendapat tugas juga, untuk membuka pembicaraan. Setelah diberi kesempatan oleh pengatur acara, saya memulai percakapan didepan peserta untuk memberikan prakata tentang pilar KOPI, yaitu Attitude Moralitas Spiritualitas, kepemimpinan dan lima teknis standarisasi KOPI. Terlihat wajah antusias, serius dan santai dari raut muka mereka saat itu. Selang beberapa beberapa menit kuakhiri pembicaraan dan kulempar tugas ke pembawa materi selanjutnya, kawan Ilham untuk melanjutkan materi tentang kepemimpinan, yang intinya berbicara tentang kekeluargaan dan kebersamaan yang harus tetap dibina dengan adanya relasi antar kawan KOPI, dalam merealisasikan mimpi KOPI untuk membangun Indonesia yang lebih baik.
      Jelang senja diantara bukit yang terjepit kuning mega, sinar surya terpantul dirindang pepohonan, jingga itu berikan relaksasi sempurna, bibirku berbisik pada rerumputan ketika angin ikuti petang, betapa indahnya. Dalam diam tanpa sedikit keraguan, hati sempat bergumam sepenuh kekagumanku pada alam, namun suaraku ditelan oleh tasbih pegunungan, suara angin melewati dedaunan pohon, riuhnya seolah merasuk jiwa dan saling menerkam pada gelisah hati yang kian lama semakin dibuat resah, kebisuan ini bukan terpaksa, aku malu pada kesempurnaan Cinta-Nya.
Hari sudah semakin sore, dan kami beranjak turun ke perkemahan dari dataran yang lebih tinggi untuk mengantar sang surya ke peraduan malamnya. Tak merasa sepi dimalam itu, karena disana sedang diselimuti hangat sukacita kebahagiaan dapat berkumpul bersama. Mendekati tengah malam, semua kawan KOPI berkumpul melingkar ditengah lapangan sempit perkemahan menumpuk kayu bakar untuk menyalakan api unggun penghangat badan, api pun dinyalakan dan materi kepenulisan dilanjutkan oleh Kang Kiki sebagai ketua KOPI pada saat itu.
      Perlu diketahui, bahwa sebelum acara kemah dimulai pada upacara pembukaan, kita semua mengadakan kontrak acara, dan salah satunya setiap peserta dibebani untuk mengawasi dan memperhatikan lawannya, semua penilaiannya harus ditulis dalam secarik kertas, baik itu dari segi penampilan, sifat, cara berkomunikasi dengan teman, bahkan sampai cara berjalannya, dan lain-lain. Tugas ini diberikan tak lain adalah untuk mengetahui seberapa besar sensitifitas mereka terhadap orang lain, karena penulis haruslah peka, peka terhadap semua hal yang ada disekitarnya. Kemudian dimalam api unggun semua hasil penilaian terhadap temannya dikumpulkan panitia untuk dibaca satu persatu. Dari semua peserta ada yang tertawa, tersenyum, karena dia menjadi objek penilaian. Pun sampai hal-hal kecil tanpa disadarinya diungkap disana oleh temannya.
Ditengah-tengah kebahagiaan itu, raut wajah mereka berubah seketika menjadi panik ketika menyadari salah satu temannya tak ada dalam barisan. Terlebih lagi yang hilang adalah kawan perempuan, sangat ditakutkan terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Semua orang bertanya-tanya kemanakah dia, dan kenapa dia bisa menghilang tanpa disadari. Mungkinkah kesasar tak tau arah, atau terjatuh ke lembah perbukitan karena gelap? Tidak, tidak.. ini semua memang telah disetting sebelumnya tanpa diketahui peserta kemah, hehehe…. dan ini, merupakan kelanjutan dari sesi sebelumnya, untuk mengasah kepekaan jiwa perasa mereka terhadap temannya, bagaimana jika terjadi hal-hal buruk pada temannya sendiri. Jadi intinya, setiap penulis itu dituntut untuk lebih peka terhadap sekitarnya, begitu. ^_^
Malam yang sepi itu pecah, ketika ada satu teman laki-lakinya berteriak-teriak sehingga membangunkan peserta lainnya, memarahi panitia karena dianggap tak becus mengurus peserta, cekcok antara panitia dan pesertapun didramatisasi, kejadian itu semakin menjadi hingga adu fisik, tetapi masih dalam batas wajar. Setelah satu jam terjadi adu mulut, peserta yang hilang dibawa kelapangan dipertemukan dengan temannya, dan mereka memeluknya, karena saking sayangnya dan telah tumbuh rasa kekeluargaan diantara mereka. Diakhir malam, panitia menjelaskan semuanya, dan tertawa bersama, tangis kebahagiaan, dengan kejadian tadi yang sempat membuat keadaan menjadi tidak kondusif.
Dan tak terasa waktu fajar sudah datang, dan kami semua segera bergegas mengambil air wudhu kemudian pergi ke mesjid. Ketika embun masih membasahi dunia, bersama-sama menjemput matahari di ufuk timur yang menjanjikan sejuta keinginan. Pagi telah kembali, nyanyian rinduku memanggilmu, hanya hitungan waktu semalam sejenak terlelap berhenti.
Pemaparan materi kali ini sangat menarik, penjelasan lebih jauh tentang spiritualitas dalam menulis yang dibimbing oleh Pak Asep Tamam dan Kang Dudi sebagai pamungkas acara. Kami semua mendapatkan pengalaman baru dalam dunia kepenulisan, motivasi untuk mencoba terus menggerakkan pena, semangat juang tanpa henti. Pengalaman yang sangat berkesan, khususnya untuk saya sendiri dalam dunia literasi. Tak cukup sampai disini diakhir waktunya pulang, sangat berharap bisa berkumpul disesi kemah selanjutnya dengan tema tulisan menarik dan sejuta pengalaman baru lagi. Sampai bertemu diekspedisi KOPI selanjutnya kawan. Aku, kalian dan kita, semangat perjuangan yang saling menguatkan ketika kehilangan, Sebab kalian jauh, kurekatkan rindu melalui pena.

Salam hangat kopi;
Kawanmu,
Abdulloh Aziz, 04 Juni 2014

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silahkan berkomentar.

Follow Me

Pengunjung

free counters

Berlangganan